Fiksi: A Lifetime of Regret
Dug! Payah! Batinku. Terhitung sudah empat kali kepalaku menghantam dinding tempat punggungku bersandar. Kakiku terlipat dengan kedua tangan tertekuk menyangga dahiku. Kepalaku menunduk melihat pakaian yang basah akibat air mata. Selama di ruang sempit ini, aku sering menangis. Sudut ruangan sebelah kiri ranjang menjadi tempatku membuang air mata dengan percuma. Sebenarnya, aku sendiri tak tahu apa yang menjadi penyebab aku menangis. Entah karena takut mati kesepian, atau menyesali perbuatan jahat yang pernah aku lakukan. Aku benar-benar payah! Tidak ada jalan lain selain memaki diri sendiri dalam hati. Sebab walaupun aku berteriak sekencang apapun pasti tidak akan ada yang peduli. Ruang ini kedap suara, jika aku perlu bantuan aku harus menggunakan telepon dan mengatakan kepada petugas apa mauku. Di bagian muka ruangan ini, ada satu pintu—yang digembok dari luar, dan satu jendela berkaca bening tempat aku menaruh mimpi di siang hari. Dari jendela itu, hampir setiap...