Ilalang: Cepat Sembuh, Kakek!
Gambar : Ringkaskata
Hari ini gorengan yang
dijual Ilalang laris manis di sekolah. Selain karena gorengan nenek memang enak
dan tidak berminyak, hal ini juga karena ibu kantin yang mengizinkan Ilalang
untuk menitipkan gorengannya. Ilalang sangat bersyukur.
Sepulang sekolah ia
segera salat zuhur dan menyelesaikan PR-nya. Nenek masih berkeliling menjual
gorengan dan mungkin dilanjutkan masak-mencuci di rumah Bu Asep. Nenek berpesan
kepada Ilalang untuk mengantarkan makan dan minum ke sawah tempat kakek bekerja
siang ini. Sehingga setelah PR-nya selesai, Ilalang membungkuskan nasi dan membawakan
minum untuk kakek.
Ilalang berjalan kaki
ke tempat kakek dan bertemu beberapa petani yang juga bekerja di sana. Bu
Paijem yang sudah mengenal Ilalang menyapanya ramah dan menginstruksi Ilalang
untuk meletakkan bekal kakek di gubuk bersama makan siang petani lain. Kemudian
ia menghampiri beberapa petani perempuan yang sedang menanam benih padi. Sedari
awal, Ilalang sudah berinisiatif untuk membantu. Semoga saja juragan sawah
tersebut berbaik hati untuk memberinya upah walau sedikit.
Ilalang mengenakan
caping yang dibawanya dari rumah supaya terik mentari tak membakar wajahnya. Ia
pun mengenakan baju lengan panjang berwarna cerah. Selanjutnya, benih-benih
padi yang sudah disiapkan oleh petani lain, diambil oleh Ilalang. Dengan sigap
ia berjalan mundur sambil menanam benih padi tersebut satu per satu. Sesekali
ia bercengkerama dengan petani-petani yang usianya hampir menyamai kakeknya.
Setelah sekitar satu
jam menanam padi, para petani memutuskan untuk makan siang bersama. Ilalang pun
ikut istirahat namun tidak makan karena ia sudah makan siang dari rumah.
“Kek, ayo, makan dulu!”
Ajak Ilalang pada sang kakek yang sedang mencangkul di seberang. “Lalang bawa
nasi dan minum dari rumah!” lanjutnya.
Kakek berhenti sebentar
untuk menjawab ajakan Ilalang.
“Sebentar dulu, Lang,
tinggal sedikit!” Seru beliau. Kakek pun melanjutkan aktivitasnya dan terus
mencangkul.
Ilalang jadi sedikit
khawatir karena kakek belum makan siang sementara pekerjaannya terasa sangat
berat. Mencangkul di tengah terik mentari tentu sangat melelahkan. Dan ternyata
benar, karena belum makan, kakek jadi sedikit pusing. Pandangannya jadi memerah
karena sinar matahari yang begitu terang.
Argh!
Terdengar
suara teriakan kakek dari seberang.
Semua yang ada di gubuk
dan sekitar sawah kaget mendengar teriakan kakek.
“Kek, ada apa?!” Tanya
Ilalang menyeru dari gubuk dan segera turun menghampirinya. Beberapa petani
yang ada di sana juga ikut menghampiri kakek. Kakek tergeletak di atas lumpur
sawah yang menggenang sambil mengerang kesakitan.
Setibanya di sana,
Ilalang mendapati darah bercucuran di kaki kakek.
“Kaki kakek terkena
cangkul, Lang. Tolong kakek!” Rintih kakek.
Ilalang dan petani lain
panik dan segera membawa kakek ke gubuk. Petani laki-laki menggendong kakek
sedangkan petani perempuan berusaha membelikan obat merah. Luka yang ada di kaki
kakek ternyata cukup lebar. Darah tidak berhenti mengalir sementara kakek terus
mengerang kesakitan. Obat merah diteteskan di atas luka kakek, kakek jadi
sedikit tenang. Namun ternyata obat tersebut tidak terlalu memberikan efek
signifikan, artinya luka kakek tidak bisa sembuh jikalau hanya diobati dengan
obat tersebut.
Akhirnya, salah seorang
petani mengusulkan untuk memberitahu juragan agar kakek dibawa ke puskesmas. Kakek
menolak karena beliau tidak punya uang untuk membiayai pengobatannya. Beliau
memilih menggunakan obat tersebut saja sampai lukanya tertutup.
“Tidak bisa begitu,
kek. Kalau hanya menggunakan obat ini, luka kakek tidak akan sembuh,” jelas Bu
Paijem.
“Tapi ini sudah terasa
agak dingin, selain itu aku tak punya biaya untuk membayar pengobatannya, Jem,”
timpal kakek.
“Obat itu memang
memberikan rasa dingin sesaat namun tidak bisa selamanya, kek—butuh waktu lama
sampai benar-benar sembuh,” ucap petani lain. “Urusan biaya pasti juragan yang
akan menanggungnya,” lanjutnya.
Ilalang ikut bingung,
kepanikannya belum hilang. Bagaimana jika
luka kakek benar-benar tidak bisa sembuh cepat? Jika dibawa ke puskesmas,
bagaimana kalau juragan tidak mau membiayainya karena ini termasuk kesalahan
kakek sendiri?
Para petani tetap
bersikeras untuk membawa kakek ke puskesmas. Salah satu di antara mereka pergi
ke rumah juragan untuk memberitahukan kejadian ini.
“Oh, ya? Bagaimana
bisa?” Juragan kaget mendengar berita itu.
“Tadi kakek sangat
bersemangat untuk mencangkul sampai tidak mau makan siang. Mungkin karena lapar
itulah pandangannya kabur dan ia malah mencangkul kakinya sendiri,” jelas
petani yang mengadu ke juragan.
“Ya, sudah. Saya ikut
ke sana sekarang dan kita bawa ke puskesmas,” instruksi sang juragan.
Selanjutnya kakek
dibawa ke puskesmas. Alih-alih tidak peduli, ternyata juragan sendiri ikut
takut akan kejadian ini: bagaimana jika
ia nanti dikatakan sebagai juragan yang tidak memperhatikan asupan makan para
pekerjanya?
Setelah diobati, luka
kakek diperban. Untuk sementara waktu kakek tidak bisa berjalan dan harus
istirahat di rumah sampai lukanya benar-benar sembuh.
“Kek, saya mohon maaf
yang sebesar-besarnya untuk kejadian ini. Saya akan bertanggung jawab penuh
akan kecelakaan kerja yang terjadi. Mulai besok kakek jangan bekerja dulu
sampai lukanya sembuh, urusan upah tidak usah dipikirkan—pasti akan tetap saya
beri upah penuh. Selain itu jika ada keluhan lagi dengan lukanya, jangan
sungkan-sungkan untuk menghubungi saya, ya?” Terang juragan tersebut kepada
kakek. “Dek Lalang nanti wajib menyampaikan keluhan kakek pada saya, ya?”
Lanjutnya sambil melihat ke arah Ilalang.
“Baik, pak. Terima
kasih banyak,” jawab Ilalang sambil tersenyum.
“Terima kasih banyak saya ucapkan kepada
bapak. Sebenarnya ini juga kesalahan saya sendiri karena menunda makan siang
yang seharusnya segera dikonsumsi. Luka saya pasti segera sembuh, kok, saya
jamin pasti tidak akan ada hal-hal yang menghawatirkan,” ucap kakek meyakinkan
sang juragan.
Mulai hari itu, kakek
juga belajar banyak. Ilalang pun sama, ternyata jika kita berusaha berbuat baik
dalam keseharian kita, maka setiap hari pun orang-orang baik juga akan
mengelilingi kita. Semua yang ada di sana belajar; belajar bagaimana cara menolong
dan mengasihi sesama.

Comments
Post a Comment