Ilalang: Liburan ke Puncak

 


Gambar: Sofia Clouds 

Hari ini merupakan hari yang sungguh menggembirakan bagi Ilalang sekeluarga. Untuk pertamakalinya, ia berhasil meraih nilai ujian nasional tertinggi di sekolahnya. Sebelumnya ia hanya bisa mencapai peringkat dua di kelas—di bawah Santi. Kali ini, Santi bertukar posisi dengan Ilalang, namun Santi tidak iri dengan pencapaian sahabatnya. Malah, ia menyadari bahwa selama menjelang ujian nasional Ilalang belajar lebih rajin daripada dirinya.

Karena prestasinya itulah, Ilalang mendapatkan honor ratusan ribu dari sekolah. Kegembiraannya tak bisa terbendung. Begitu sampai di rumah, ia langsung menghadiahkan uang itu kepada nenek. Namun sayangnya, nenek menolak dengan dalih bahwa sebaiknya uang itu ditabung saja untuk biaya Ilalang masuk SMP. Nenek sangat senang akan pencapaian Ilalang namun tidak pernah menginginkan uang itu, sebab uang itu adalah hak milik Ilalang. Akhirnya Ilalang pun menyimpan sendiri uang itu.

Di sela-sela libur setelah ujian, ketiga sahabat Ilalang berkunjung ke rumahnya. Ternyata mereka bermaksud mengajak Ilalang untuk kamping di Puncak.

“Apa? Kalian yakin mau mengajakku berlibur ke tempat sejauh itu?” Tanya Ilalang tak percaya.

“Yakin, lah. Ayo, ini untuk pertama kalinya kita berlibur bersama, Lang!” Jawab Rini yang sudah sangat antusias untuk berlibur.

Tapi Ilalang masih tidak yakin. Sebenarnya ia mau-mau saja dan ingin merasakan liburan di Puncak yang indah. Tapi kalau dia ke sana, akan banyak biaya yang dikeluarkan. Hal tersebut pastinya akan memberatkan nenek seandainya uangnya sendiri tidak mencukupi.

“Aku tidak punya uang, Rin, nenek pun pasti tidak akan mengizinkanku,” ucap Ilalang.

“Urusan biaya transportasi dan makanan pokok sudah orang tuaku yang menanggung, jadi tidak perlu khawatir,” timpal Santi. “Selain itu, kami akan membantumu untuk meyakinkan nenekmu, kok, tenang saja,” lanjutnya. Santi berasal dari keluarga yang berkecukupan, sehingga urusan biaya transportasi dan uang makan merupakan hal yang ringan bagi mereka.

“Jadi kita cukup menanggung uang jajan saja?” Tanya Ilalang.

“Iya, itu pun kalau kamu ingin jajan. Seandainya tidak, maka uangmu juga tidak akan berkurang,” jawab Nunuk.

Nampaknya Ilalang berubah pikiran. Ia akhirnya meminta bantuan ketiga temannya untuk meyakinkan nenek. Dengan berbagai alibi yang logis, nenek pun menyetujuinya asalkan mereka tidak berbuat macam-macam dan berjanji untuk bisa menjaga diri.

Esok lusa mereka berangkat dengan mengendarai mobil milik Santi. Sepanjang perjalanan mereka mengobrol dengan Pak Supir yang suka melawak. Di tengah perjalanan mereka berhenti sebentar untuk sarapan, kemudian melanjutkan lagi sampai tiba di tempat tujuan.

Setelah membeli tiket dan memenuhi beberapa persyaratan yang ditentukan, Ilalang, Santi, Rini, dan Nunuk bersiap untuk mendaki ke Puncak. Mereka mengenakan pakaian panjang yang agak tebal karena tentunya udara di atas sangatlah dingin. Perjalanan benar-benar panjang dan melelahkan. Mereka berulang kali berhenti di tengah pendakian untuk sekedar beristirahat.

Akhirnya, mereka pun berhasil tiba di puncak. Lokasi kamping mereka hanya tinggal dua ratus meter lagi. namun sebelum itu, Nunuk mengajak foto-foto dulu karena kebetulan di area itu pemandangannya cukup indah. Mereka berfoto secara bergantian, sampai tiba giliran Ilalang. Ilalang ternyata tidak pernah berfoto-foto selama ini, sehingga posenya cukup garing dan mengundang kelakar temannya.

“Oke, cukup! Pose kamu lucu amat, sih, Lang, HAHAHA!” Ucap Rini setelah memfoto Ilalang sambil tertawa.

“Ya, lagipula aku belum pernah foto-foto dengan gaya seperti itu, sih,” gerutu Ilalang. Ilalang yang berada di seberang teman-temannya bergegas melewati dataran berbatu untuk melanjutkan perjalanan. Namun tiba-tiba..

Srrrakkk! AAAH!

“Lalang!” Teriak Santi, Nunuk, dan Rini bersamaan. Ilalang terpeleset ketika akan kembali dari spot foto. Badannya tergelinding ke bawah. Semuanya panik! Mereka bertiga berusaha menolong Ilalang yang badannya tengkurap di bebatuan. Ilalang merintih kesakitan, kakinya terkilir.

Karena Ilalang tidak bisa berjalan, akhirnya Rini dan Nunuk memanggil pendaki lain untuk membantu mengangkat Ilalang. Dua orang laki-laki dewasa datang dengan membawa tandu. Ilalang diangkat dan dibawa ke pos pelayanan darurat. Ia diobati oleh petugas di sana. Untuk beberapa jam ke depan, mungkin Ilalang belum bisa berjalan dan nampaknya kamping akan dilanjutkan besok pagi.

Tapi di tengah rasa sakitnya itu, Ilalang tidak menyerah. Ia terus berdoa kepada Yang Mahakuasa agar segera disembuhkan. Ia begitu khawatir seandainya kamping akan diteruskan besok, biaya untuk makan akan jauh lebih banyak. Mereka sudah menyewa tenda untuk dua malam, jika ditunda sampai besok pasti penyewa akan meminta biaya tambahan. Oleh karena itulah Ilalang tak henti-hentinya berdoa dan berzikir dalam hati.

“Teman-teman, kakiku sebentar lagi akan sembuh, kok. Kita harus tetap memulai kamping malam ini juga,” ucap Ilalang pada ketiga temannya.

“Jangan, Lang, lukamu belum sembuh. Kamu harus istirahat lagi,” timpal Santi.

“Sudahlah, jangan khawatir,” ucap Ilalang sekali lagi.

“Bagaimana kami tidak khawatir, Lang? Kami sangat takut jika kamu kenapa-napa lagi,” kata Rini. Kedua temannya mengangguk.

“Em, kita bagi tugas saja, yuk! Bagaimana kalau Rini dan Nunuk mempersiapkan keperluan kamping sekarang. Sementara itu, Santi tetap di sini menemaniku,” tawar Ilalang.

Ketiga temannya berpandangan satu sama lain.

“Tapi kamu yakin tidak apa-apa, Lang?” Tanya Rini tidak yakin.

“Yakin! Insyaallah sebentar lagi aku pasti bisa jalan,” jawab Ilalang meyakinkan temannya.

Akhirnya Rini dan Nunuk berangkat ke area kamping dan mempersiapkan tenda. Sedangkan Santi tetap di pos darurat untuk menemani Ilalang. Ternyata benar, kaki Ilalang sudah membaik satu jam setelah Rini dan Nunuk berangkat. Ia mencoba beranjak dari ranjang sambil dipegangi Santi. Alhamdulillah, ia sudah bisa berjalan walaupun masih tertatih-tatih. Akhirnya, mereka mengucapkan terima kasih kepada petugas yang sudah merawat Ilalang dan mereka pun segera menuju tempat kamping menyusul Rini dan Nunuk.

Mereka sampai di sana ketika matahari hampir terbenam. Suasana di sana benar-benar indah, meskipun udara sangat dingin, namun sinar matahari memancarkan warna oranye yang sangat indah. Mereka berfoto bersama di sana, namun kali ini sambil duduk saja tanpa terlalu ke pinggir tebing. Hasil fotonya siluet namun indah dan artistik. Pengalaman kamping di sore itu dilanjutkan sampai esok malam. Mereka menghabiskan waktu dengan berpetualang dan bersenang-senang.

Comments

Popular posts from this blog

Kisah Jaket Merah

Ilalang: Cepat Sembuh, Kakek!