Fiksi: A Lifetime of Regret
Dug! Payah! Batinku. Terhitung sudah empat kali kepalaku menghantam dinding tempat punggungku bersandar. Kakiku terlipat dengan kedua tangan tertekuk menyangga dahiku. Kepalaku menunduk melihat pakaian yang basah akibat air mata. Selama di ruang sempit ini, aku sering menangis. Sudut ruangan sebelah kiri ranjang menjadi tempatku membuang air mata dengan percuma.
Sebenarnya, aku sendiri tak tahu apa yang menjadi penyebab aku menangis. Entah karena takut mati kesepian, atau menyesali perbuatan jahat yang pernah aku lakukan.
Aku benar-benar payah! Tidak ada jalan lain selain memaki diri sendiri dalam hati. Sebab walaupun aku berteriak sekencang apapun pasti tidak akan ada yang peduli. Ruang ini kedap suara, jika aku perlu bantuan aku harus menggunakan telepon dan mengatakan kepada petugas apa mauku. Di bagian muka ruangan ini, ada satu pintu—yang digembok dari luar, dan satu jendela berkaca bening tempat aku menaruh mimpi di siang hari. Dari jendela itu, hampir setiap hari aku melihat petugas rumah sakit berlalu lalang tergesa-gesa sambil menuntun ranjang pasien yang mengerang kesakitan. Setiap kali aku melihat wajah mereka, mereka tidak pernah tersenyum, mereka selalu acuh tak acuh padaku. Aku hanya diperhatikan ketika aku mengeluh serius lewat telepon.
Kini sudah siang, biasanya jam segini aku sudah makan dua piring nasi. Tapi sekarang, tentunya mustahil untuk bisa merengek minta makanan sesukaku. Mereka yang menentukan waktu makanku, bukan aku. Di saat lapar adalah masa yang tepat untuk menghibur telinga dengan suara musik keroncong yang dihasilkan cacing perut. Agar lebih nikmat, dengarkanlah dengan mata terpejam. Tapi konsekuensinya, bayangan masa lalu pasti akan datang.
➖➖
"Permisi!" Ada seseorang memanggil dari luar. Setelah menjawab, "ya," aku segera menghampirinya.
"Wil, main, yuk! Hari ini gue dapet rezeki banyak, jadi bisa buat traktir lo sama Nikita." Ujar seorang temanku yang bernama Andi.
"Wah, boleh banget tuh. Tapi emang kita boleh keluar rumah?" Tanyaku kemudian.
"Aelah, siapa juga yang ngelarang. Lagian hidup mati kita udah diurus sama Tuhan!" Timpalnya. Aku mengerti apa maksudnya.
"Yaudah gue izin ke mama dulu, ya!"
Dengan segera aku menemui mama yang sedang memasak untuk makan siang. Belum sempat berbicara, beliau sudah bertanya duluan.
"Siapa yang datang, Wil? Temanmu? Mau ngapain? Jangan main keluar, loh. Udah tahu, kan, kita diimbau untuk melaksanakan social distancing?" Tipikal ibu-ibu, padahal aku belum bilang apa-apa sudah bisa menebak dan melarang.
"Mau makan ke kafe dekat situ, kok, ma. Si Andi habis dapat rezeki jadi dia mau mentraktir aku dan Nikita. Sayang kan, ma, kalau kita menolak rezeki." Timpalku.
"Iya. tapi lebih sayang lagi kalau kamu nanti terpapar virus itu. Coba dengerin apa kata mama."
"Yah, mama nih selalu nggak asik. Lagian cuma di Kafe Cosinus situ, loh, ma. Deket!" Pokoknya aku tetap bersikeras.
"Sayang, iya bener deket. Tapi emangnya virus itu peduli jauh atau deket letak kafe dari rumah kita?" Ucapan mama barusan sedikit membuat aku terpojok. Tapi aku tetap tidak akan menyerah.
"Udah deh, ma, tenang aja. Kita hidup atau mati sudah diatur sama Tuhan." Tukasku.
Mama tidak menjawab, hanya kulihat pundaknya yang tiba-tiba menurun bersama nafas tertahan. Bagus! Berarti mama menyerah berdebat denganku dan aku diizinkan. Saat aku membalikkan badan hendak pergi, beliau berkata lagi.
"Ya sudah, tapi makannya jangan lama-lama. Saat di perjalanan pakai masker dan setelah makan langsung pulang!" Perintahnya.
Aku meng-iya-kan tapi sayangnya hatiku sedang tidak ingin menuruti. Aku ingin bebas hari ini, melakukan semuanya sesukaku. Bosan rasanya setiap hari dikurung di rumah.
Aku segera berangkat ke Kafe Cosinus bersama Andi dan Nikita dengan jalan kaki tanpa memakai masker. Sesampainya di kafe, kami segera memesan makanan sesuka kami karena Andi sedang baik hati saat itu. Sambil menunggu makanan datang, kami selfi-selfi dulu, lah.
"Eh, habis ini kita ke mal, yuk, karaoke-an!" Celetuk Nikita.
"Duit gue ntar habis kalua dipakai karaoke, Nik." Kata Andi.
"Yah, lagipula siapa yang minta lo bayarin. Gue tanggung semuanya, dah!" Ucapan Nikita barusan membuat hatiku dan Andi gembira. Oke! setelah ini kita karaoke-an.
➖➖
Rasanya tidak cukup kalau cuma karaoke-an. Kami pun pergi menuju wahana permainan yang sedang ramai pengunjung saat itu. Wah, ternyata banyak juga yang tidak patuh terhadap imbauan social distancing selain kami, haha! Hari ini kita karaoke dan main sepuasnya. Sudah seminggu lebih aku tidak bergembira seperti ini, akhirnya hatiku kembali terhibur.
Pukul lima sore, acara main-main kami baru selesai. Kami segera pulang ke rumah masing-masing. Seperti dugaan, mama sudah menungguku di teras. Tapi aku baru saja selesai menghibur diri, otomatis otakku akan encer untuk diajak berdebat.
"Kenapa baru pulang? Mama tadi bilang apa? Kamu nggak dengerin?" Ucap mama menginterogasiku.
"Main dulu, lah, ma. Wildan, kan, lama nggak main keluar." Bantahku.
"Kamu sekarang kok sering membangkang perintah mama?! Mama membolehkan kamu keluar untuk makan doang, lah, kamu malah ngaret entah kemana. Terus kenapa nggak pakai masker? Dari mana aja kamu?!" Pertanyaan mama bertubi-tubi membuatku geram. Akhirnya aku menghela napas dan masuk ke rumah tanpa menghiraukan mama. Aku segera ke kamar, menghempaskan tubuh di kasur kemudian memejamkan mata.
"Wildan!" Ups, ternyata mama mengikutiku dan agaknya beliau belum puas memarahiku. "Salat asar dulu! Bukannya menjawab pertanyaan mama kamu malah beranjak tidur. Sekarang waktu asar sudah hamper habis. Ambil wudu cepat, salat, dan mandi!" Perintah mama tiba-tiba. sepertinya beliau sudah melupakan pertanyaan beliau yang sebelumnya.
"Argh! Wildan capek, ma! Mau tidur. Ntar aja mandinya. Lagian nggak salat satu kali juga nggak papa, kan, Tuhan itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang." Bantahku dengan sangat kesal karena mama memarahiku terus.
"...apa yang sudah membuat kamu keras kepala seperti itu, nak?"
Aku diam. Begitupun mama yang melihatku dalam beberapa detik, kemudian berpaling dari kamarku. Ya sudah, deh, saatnya tidur!
➖➖
"Wil, bangun! Ayo makan malam!" Seseorang membangunkanku dari tidur yang sangat nikmat. Itu mama. Aku segera membuka mata, menggeliat sebentar dan turun dari ranjang. Saat berjalan menuju dapur aku seperti ingat sesuatu tapi apa, ya? Oh, mungkin mimpi.
"Mama sudah merebus air buat kamu mandi. Kamu mandi dulu saja biar segar." Saran mama. Aku menurut dan segera mandi, segar sekali rasanya. Setelah itu aku kembali ke ruang makan dan menyantap ayam goreng bersama mama. Mamaku memang banyak bicara, baru saja aku mau mengambil nasi, sudah ditanyai.
"Kamu udah salat isya tadi?"
"Belum, nggak papa, kan, ma?"
"Nggak papa. semoga besok kamu masih bisa salat." Jawab mama diiringi senyum. Aneh, apa maksudnya? Apa karena mulai besok semua masjid sekampung akan ditutup?
Seusai makan malam aku segera mencuci piring, ini sudah menjadi kebiasaanku sejak kecil dan aku menikmatinya saja.
Mama menuju ruang televisi, seperti biasa setiap malam beliau selalu memandangi wajah pelawak nasional di layar televisi. Aku duduk di sampingnya sambil memainkan handphone-ku. lagi-lagi, mama membuka percakapan.
"Wil, besok antarin mama ke klinik, ya. Mama mau kontrol paru-paru." Pinta mama. Mama memang punya kelainan paru-paru sejak lahir. Jika terlalu berlebihan dalam beraktivitas maka napasnya menjadi tidak wajar, aku lupa nama kelainannya.
"Ya." Jawabku menyetujui sambil tetap fokus pada handphone. "Sekalian beli udang di pasar, ya, ma, lama nggak makan udang. Besok naik angkot aja, boros bensin kalau naik motor." Tambahku.
"Iya, sayang." Ujar mama menyetujui. Untuk kedua kalinya aku merasa ada yang aneh. Mengapa mama setuju naik angkot dan beli udang di pasar seperti semuanya sedang baik-baik saja? Otakku seakan mengajakku berpikir dan memoriku memaksaku mengingat kejadian sebelumnya. Tapi youtube lebih menarik daripada harus membuat kepala pusing untuk mengingat apa yang telah terjadi.
➖➖
Sudah pukul 09.00! Gawat! Aku, kan, harus mengantar mama! Aku segera bangun dan menuju dapur mencari mama. Mama sudah tidak ada, rumah sepi.
Di meja makan aku mendapati selembar kertas, tulisan cantik mama terukir di sana.
Sayang, mama berangkat ke klinik sendiri hari ini. Mama sudah membangunkanmu, tapi wajahmu terlihat sangat lelah. Akhirnya mama memutuskan pergi sendiri naik angkot, seperti saranmu semalam. Di tudung saji sudah ada tumis buncis dan tempe kesukaanmu. Kamu cepat mandi dan segera makan. Nanti kamu harus salat zuhur walau tanpa mama suruh kalau mama belum pulang. Setelah ke klinik mama akan membelikanmu udang, kamu tunggu di rumah dan jangan ke mana-mana.
Yah, mama sudah berangkat. Tadi malam aku tidur terlalu larut dan akhirnya aku juga tidak salat subuh. Setelah membaca surat mama aku mandi dan sarapan.
Ada yang membuat aku merasa cemas. Sudah pukul 1 dan mama belum pulang, pikiranku menjadi tidak enak. Padahal aku juga sudah salat zuhur dan makan siang. Mama tidak punya handphone jadi mau menelepon pun mustahil. Akhirnya aku memilih nonton televisi hingga ketiduran.
"Wil, bangun!"
Saat membuka mata, bukan wajah mama yang terlihat tapi muka sendu Bi Putri yang berdiri di seberang kursiku. Kami terhalang meja. "Sudah jam empat sore, kamu harus bangun dan segera salat asar." Lanjutnya.
Cepet banget, ya? Batinku.
"Bu Putri kok di sini? Mama mana?" Entah mengapa pikiranku langsung tertuju pada mama.
Bi Putri menghela napas dan menatapku dalam.
"Mama kamu tadi ke klinik, dia diperiksa dokter dan hasilnya Erna (mamaku) positif COVID-19." Bi Putri berhenti sekejap, aku lupa saat itu bagaimana reaksiku.
"Dokter memintanya untuk segera pulang dan mengonsumsi obat yang biasa dia minum karena paru-parunya bisa membuat virus itu lebih parah. Tapi mamamu bandel, ia malah mampir ke pasar dan di sana lah penyakitnya membuat ia pingsan. Menurut pernyataan penjual di pasar tempat mamamu pingsan, Erna ingin membeli udang satu kilo. Sekitar satu menit di sana tiba-tiba ia sesak napas dan jatuh tersungkur. Seluruh pengunjung pasar panik dan satpam segera menelpon petugas rumah sakit. Lagi-lagi mamamu memang bandel, ia tidak punya handphone dan alamat rumahnya belum diketahui bagian administrasi rumah sakit dengan jelas. Untungnya, penjual di pasar tadi kenal dengan Erna, dan tahu kalau Erna itu adikku. Nomor teleponku diberikan ke petugas rumah sakit, aku ditelepon dan diberi penjelasan olehnya." Bi Putri berhenti bicara. Air matanya mengalir. Lagi-lagi aku lupa bagaimana reaksiku, seandainya saat itu aku tenang-tenang saja sudah pasti aku mendapat dosa seumur hidup.
"...aku kaget bukan main saat kalimat penghujung teleponnya adalah 'Erna meninggal karena penyakit paru-paru akut ditambah infeksi virus corona'."
"..."
Seketika hening.
Hanya isak tangis Bi Putri yang terdengar.
"Oh, tentu tidak mungkin. Jangan membuat drama saat aku baru saja bangun tidur, bi! Mama adalah orang yang sangat patuh terhadap imbauan pemerintah. Beliau selalu memperhatikan protokol kesehatan kapan pun dan di mana pun!" Aku emosi karena seperti dipermainkan oleh Bi Putri.
"Mamamu memang patuh terhadap imbauan pemerintah, tapi kamu yang tidak! Kamu satu-satunya anak yang menjadi tumpuan harapannya, tapi kamu tidak pernah mengerti! Tadi pagi sebelum berangkat ke klinik dia sempat curhat pada bibi kalau kamu memang bandel akhir-akhir ini. Sekarang, orang yang menjamin kehidupan dan keselamatanmu sudah tidak ada!" Bi Putri menaikkan nada bicaranya.
Aku tertegun, meresapi kalimat yang diucapkannya.
"Kau tahu, saat kau keluar rumah tanpa seizin mama, kamu membawa virus mematikan itu di sekujur tubuhmu. Karena imun tubuhmu kuat, kau tidak merasakan gejala bahwa kau telah terpapar. Dan ketika kau berdekatan dengan Erna, paru-parunya yang lemah menjadi korban!" Serunya diikuti isak tangis.
"Setelah ini petugas medis akan datang menjemputmu untuk memenjarakanmu di rumah sakit."
Apa maksudnya? Mengapa penjara di rumah sakit? Apa yang sudah aku lakukan?
"…"
Aku membantah perintah mama untuk tidak keluar. Aku tidak salat, aku menuruti hawa nafsu. Saat mama membangunkanku, beliau mengelus kepalaku, kemudian mama juga yang membereskan tempat tidurku, mencuci bajuku, dan meletakkan sepatuku pada tempatnya. Apakah saat itu semua virus yang kubawa ikut menempel di tubuh mama, atau mama menghirupnya; kemudian masuk ke patu-parunya; memerangi jaringan-jaringan di dalamnya—yang memang sudah cacat; dan membunuh mama? Astaga! Bukan, bukan virus itu yang membunuh mama! Tapi bagaimana kalau aku yang sudah membunuh orang yang menjamin kehidupanku sendiri?
Kepalaku pusing, tubuhku tiba-tiba berkeringat dingin dan pandanganku menggelap. Bahkan sebelum pingsan pun, aku tidak sempat mengucap Inalillahiwainailahirajiun untuk mama.
➖➖
Kriet..
Seseorang membuka pintu ruanganku, membuat aku terbangun. Ia membawa sepiring nasi udang dan segelas air putih. Setelah memberikan nampan itu padaku ia berbalik dan meninggalkanku.
"Tunggu!" Cegahku. "Siapa yang memasak udang ini?"
Orang itu terlihat bingung dengan pertanyaanku, ia mengatakan sesuatu tapi tidak jelas apa yang dikatakannya karena mukanya tertutup alat pelindung diri. Kemudian ia keluar dan menggembok kembali ruanganku—penjara di rumah sakit, ruang karantina—dari luar.
Haha, tidak lucu. yang jelas bukan mama yang memasak udang sialan ini. Bi Putri? Andi? Nikita? Tidak mungkin, karena saat itu mereka pernah berinteraksi denganku dan mereka pun harus isolasi mandiri di rumah. Lagi-lagi gara-gara aku. Oh, tunggu apakah ayah? Ataukah istri baru ayah?

👌
ReplyDelete:) ❤
Delete