Kisah Jaket Merah


Tidak hanya manusia yang mempunyai kisah, tapi benda di sekitar kita juga ada yang punya kisah. Karena setiap benda pasti berkaitan dengan pemiliknya—manusia, maka kisahnya pun pasti tak jauh dari kisah sang pemilik. begitu pula dengan Jaket Merah yang akan aku ceritakan di sini.



Ini dia!

Tanggal 28 Mei 2019, si Jaket Merah—yang kembar dua puluh sembilan—lahir ke dunia. Ia lahir dari keluarga sederhana, seadanya, bahkan untuk persalinannya sang ibu hanya perlu membayar Rp80.000,- kepada bu bidan. Saat dilahirkan, si Jaket Merah tidak menangis, bahkan sebaliknya mereka sangat senang dan gembira melihat indahnya planet biru hijau ini. Mereka tidak perlu asi, tidak perlu bubur, cukup mandi satu atau dua minggu sekali mereka sudah kelihatan cantik.

Karena kedua puluh sembilan Jaket Merah itu kembar tapi tak seiras, sifat dan minat mereka pun berbeda-beda. Ada yang bawel, pendiam, rajin belajar, kutu buku, rajin olahraga, jago menggambar, suka main game, dan lain-lain. Oh iya, sebenarnya mereka kembar tiga puluh, tapi sayangnya bayi yang ketujuh tidak terlalu suka bersenang-senang. Ia lebih memilih bekerja dan punya penghasilan sendiri tanpa harus merepotkan ibundanya. Walhasil, ia pindah ke kota besar untuk bekerja.

Singkat cerita, kedua puluh sembilan Jaket Merah kini sudah dewasa. Mereka punya kesibukan masing-masing—yang menyebabkan mereka berpisah. Sebenarnya mereka berpisah karena alasan pendidikan, namun seperti yang sudah kuceritakan tadi, mereka punya sifat dan minat yang berbeda-beda. Sang ibu tentu tidak dapat memaksa agar putra-putrinya dapat terus bersekolah di tempat yang sama, karena nanti malah tidak worth it. Kebanyakan dari Jaket Merah memilih sekolah yang jauh dari rumah, sehingga banyak yang tinggal di kos. Mereka hanya pulang seminggu sekali, atau bahkan jika ada acara yang penting di sekolah, mereka tidak pulang. Jaket Merah yang tetap tinggal bersama sang ibu hanya sekitar 10 jumlahnya.

Akan tetapi, kesibukan dalam belajar tidak membuat kesadaran mereka sebagai saudara menjadi surut. Paling tidak tiga kali dalam setahun mereka mengadakan makan bersama di rumah. Satu kali buka bersama, satu kali bersilaturahmi saat idulfitri, dan satu kali pesta ayam bakar. Mereka punya kebiasaan unik, sebelum acara jumpa kangen dilaksanakan, mereka akan membuat agenda dengan sangat detail. Mulai dari berapa dana yang dibutuhkan, kapan pelaksaannya, dan di mana tempatnya. Karena itulah, tidak ada satupun acara mereka yang hanya menjadi wacana.

Namun sayangnya, tahun 2020 ini seakan menjadi momok bagi mereka. Akibat pandemi, semua agenda yang sudah mereka susun terpaksa menjadi wacana. Begitu pun dengan Jaket Merah ketujuh, kini ia terjebak di tempat tinggalnya dan tidak bisa pulang memeluk ibundanya. Sedih memang, sudah lama tidak bersua, rindu yang semakin menggunung itu pun harus mereka tahan. Walau mereka tetap bersenda gurau di grup WhatsApp setiap hari, rasanya jauh berbeda. Pesan teks atau pesan suara tidak sememuaskan meet in person, memang.

Di bawah sini akan kusajikan beberapa potret si Jaket Merah saat berkumpul.












Yah, itu dia kisah si Jaket Merah—yang kembar tiga puluh—dari mereka lahir sampai dewasa kini. Ceritanya singkat, tapi nanti akan jadi lebih panjang. Soalnya cerita mereka memang belum tamat. Semoga pandemi—yang seluruh dunia hadapi—ini segera berakhir, supaya kita bisa segera tahu bagaimana kisah Jaket Merah yang berikutnya. 

Winners never quit and quitters never win. 
Motonya Si Jaket Merah.

Follow
Instagram Jaket Merah, ya! Di asea.16




Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Ilalang: Cepat Sembuh, Kakek!

Ilalang: Liburan ke Puncak