Naruto: Si Pirang yang Legendaris
Uzumaki Naruto, seorang pria yang lahir di
Konohagakure, Hi No Kuni (dalam bahasa Indonesia berarti Desa Konoha, Negara
Api) pada tanggal 10 Oktober di tahun yang tidak diketahui. Sekarang ia
menjabat sebagai hokage ke-7 di Desa Konoha. Ia merupakan mantan anggota tim 7
dibawah naungan Hatake Kakashi dan dua rekan lainnya: pasangan suami/istri
Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura. Naruto yang kerap dipanggil Nanadaime (dalam
bahasa Indonesia disebut hokage ke-7) memperistri Hyuuga Hinata, putri keluarga
utama dari Klan Hyuuga; serta memiliki dua orang anak bernama Uzumaki Boruto
dan Uzumaki Himawari. Ia menjadi hokage menggantikan Hatake Kakashi—gurunya,
dan menduduki jabatan yang setara dengan kage (secara harfiah berarti bayangan, orang terhormat yang menjabat
sebagai pemimpin desa ninja) lainnya.
Ini penampakannya saat memakai jubah hokage
Setiap hari, Naruto bekerja di balik meja untuk
mengurus bertumpuk-tumpuk dokumen yang berkaitan dengan politik; pemerintahan;
kesehatan; ekonomi; kemiliteran; dan secara khusus mengurus misi yang akan
dilaksanakan oleh para shinobi (nama lain ninja)
dari berbagai tingkat di Desa Konoha. Dalam pekerjaannya, ia dibantu oleh rekan
geniusnya bernama Nara Shikamaru dan anak buahnya yang diasosiasikan dalam Anbu
(singkatan dari Ansajutsu Senjutsu Tokushi Butai, atau Pasukan Khusus Pembunuhan
dan Taktik).
Dari paparan di atas, kita dapat melihat bahwa
Naruto adalah orang yang hebat dan elite. Hal itu memang tidak bisa dipungkiri.
Namun tokoh karya Masashi Kishimoto ini memiliki serangkaian kisah pahit yang
telah dilaluinya sebelum menjadi tokoh anime legendaris seperti saat ini.
Saya sendiri menyukai Naruto sejak kelas 1 SD, namun
baru mulai mengerti kisah dan amanat yang disampaikan di dalamnya tiga tahun
kemudian. Seri Naruto terdiri dari Naruto Original yang berjumlah 220 episode;
Naruto Shippuden dengan 500 episode; sebelas OVA; dan sebelas film. Sedangkan
manga-nya (manga: komik Jepang)
berjumlah 72 volume. Manga Naruto terbit pertama kali pada tanggal 21 September 1999 dan berakhir pada 10 November 2014.
Sedangkan versi animenya tayang di Jepang mulai tanggal 3 Oktober 2002 hingga tanggal
23 Maret 2017, dan dilanjutkan oleh seri Boruto: Naruto Next Generation.
Hal yang paling menarik dari suatu
anime adalah kisahnya, begitu pula dengan Naruto ini. Meskipun banyak yang
menyebut ini adalah tontonan anak-anak, tapi kisah dan amanat yang disampaikan
di dalamnya adalah permasalahan yang sesungguhnya hanya dapat dipahami
betul-betul oleh orang dewasa. Terbukti, banyak dari teman dan kenalan saya
yang sama-sama Naruto enthusiast baru
memahami makna anime ini setelah beranjak dewasa.
Di dalam rangkaian cerita Naruto,
banyak hal-hal yang menarik untuk dibahas. Hal-hal umum yang menjadi pembentuk
cerita Naruto berkisar tentang mimpi, peperangan, kriminalitas, percintaan,
hingga cerita kehidupan shinobi lainnya yang penuh dengan pesan mengharukan dan
menyedihkan. Hampir di setiap arc (arc: kumpulan beberapa episode yang
membahas topik yang sama), pasti ada unsur sedih dan pilu yang disajikan. Apalagi
jika sudah keluar kata-kata ala Naruto yang mampu menusuk sisi manusiawi kita,
tak heran saya pun sering hampir menangis saat menonton kisahnya.
Alur cerita Naruto selalu sulit
ditebak, sehingga terkesan menarik dan pasti selalu timbul rasa “penasaran akan
kelanjutan episodenya” setelah menonton. Selain itu, strategi-strategi yang
disajikan dalam bagian klimaks hingga resolusi selalu unik dan mengasah otak,
bahkan tidak pernah terpikirkan oleh orang-orang pada umumnya. Saya tidak
pernah habis pikir bagaimana Kishimoto-sensei membuat masterpiece ini dan seperti apa kerja keras beliau—apakah sama
sukarnya dengan perjuangan Naruto untuk meraih titel hokage.
Di bawah ini, akan saya sajikan
beberapa poin-poin penting dari seri Naruto yang mungkin dapat membuat kalian
tertarik—bagi yang belum pernah menonton—atau menjadi bahan flashback bagi sesama Naruto enthusiast.
1. Yatim
Piatu yang Menciptakan Banyak Ikatan
Episode
pertama Naruto mengisahkan serangan kyuubi
(monster rubah berekor sembilan) yang menyerang Desa Konoha. Monster ini
awalnya disegel di dalam tubuh Uzumaki Kushina (ibu Naruto) dan segelnya lepas
saat ia melahirkan Naruto. Benar, serangan kyuubi terjadi sesaat setelah proses
persalinan Kushina. Saat itu, ayah Naruto—Namikaze Minato, menjabat sebagai
hokage ke-4; dan satu-satunya orang yang mampu mengatasi serangan kyuubi adalah
Minato ini. Namun ternyata, kyuubi dikendalikan oleh seorang penjahat
bertopeng—yang ternyata murid Minato dulu, sempat dikira meninggal dalam
insiden perang dunia ninja ke-3 namun menjadi penjahat. Kyuubi dan penjahat
bertopeng awalnya dapat dikalahkan, akan tetapi untuk menyegel kembali kyuubi,
Minato harus menggunakan segel shiki
fuujin dengan syarat ia rela mengorbankan nyawanya. Sebelum sempat disegel
di tubuh Naruto, cakar kyuubi hendak mengenai bayi Naruto, Kushina dan Minato
segera melindungi dengan refleks dan walhasil tubuh mereka tertusuk salah satu cakar
kyuubi yang besarnya hampir menyamai tubuh mereka.
Di
momen itulah, Kushina menyampaikan pesan terakhir sebagai seorang ibu yang baru
saja melahirkan anaknya. Pesannya sungguh mengharukan dan dramatis. Saya jamin
pasti kalian akan menangis jika menonton. Lalu, Naruto pun tumbuh menjadi anak
yang tinggal sendirian—diwarat hokage ke-3, ia dibenci oleh seluruh penduduk
desa karena ia dianggap sebagai monster yang telah membunuh hokage ke-4.
Alih-alih disanjung karena putra hokage, ia malah diasingkan dan dibenci.
Akhirnya
Naruto masuk ke Akademi Ninja, di sana ia bertemu Guru Iruka yang sangat
menyayangi Naruto. Ia juga menjadi langganan Ramen Ichiraku, dan penjualnya
bersikap hangat kepadanya. Setelah menjadi genin (tingkatan ninja awal setelah
lulus akademi), Naruto menjadi anggota tim-7, ia satu tim dengan gadis yang
disukainya—Sakura, dan rival sejatinya—Sasuke.
Naruto
sudah menganggap tim 7 sebagai keluarganya, ditambah lagi teman-teman
seangkatannya yang juga mengakui Naruto. Ia tumbuh menjadi seorang ninja yang
bertemu banyak orang—dari berbagai latar belakang—dalam misi-misinya. Di
situlah, Naruto acap kali membangun ikatan.
Hampir semua orang yang Naruto temui—bahkan musuh sekalipun, pasti akan
menjadi temannya dan membangun ikatan yang baik dengannya.
Sejak
menjadi genin inilah Naruto sudah tidak merasa kesepian, ia menjumpai banyak
orang-orang hebat yang hampir berlatar belakang sama dengannya. Baik guru
maupun teman, semuanya melepaskan Naruto dari belenggu kesepian. Sedikit demi
sedikit ia juga menjadi lebih kuat karena dukungan orang-orang di sekitarnya.
Kita
dapat memetik sesuatu, bahwa dukungan dari lingkungan sangatlah diperlukan.
Banyak dari kita yang mungkin anti-sosial, sering mengabaikan pentingnya relasi
dengan orang di sekitar kita. Kita mungkin berpikir bahwa kita bisa melakukan
apapun sendirian, because my life is mine.
Namun, ini jelas salah. Sebagai makhluk sosial, membangun hubungan yang baik
dengan orang lain adalah kebutuhan. Tanpa orang lain, mustahil kita dapat
berkembang—sebab perkembangan membutuhkan pengalaman, dan setiap pengalaman
selalu berasal dari orang lain.
2. Bodoh, Tapi Pantang Menyerah
2. Bodoh, Tapi Pantang Menyerah
Naruto
adalah karakter yang bodoh, gegabah, dan payah. Ia sangat berbeda dengan Sasuke
dan Sakura dalam hal kecerdasan. Ia bahkan tidak menjawab satu pun soal tulis
dalam ujian chuunin (tingkatan ninja kedua setelah genin) dan menjadi siswa
dengan nilai terendah di kelasnya. Setiap kali bertarung, ia sering tidak
menaati strategi yang disusun kapten tim. Ia menyerang dengan gegabah dan
tetunya musuh dapat menangkisnya dengan mudah. Namun, setelah itu Naruto pasti
selalu bangkit lagi dengan semangat berapi-api. Semangatnya inilah yang sudah
menginspirasi banyak orang, bahkan di dunia nyata. Ia membuktikan bahwa orang
yang cerdas dapat dikalahkan oleh orang bodoh yang pantang menyerah.
Sebenarnya
ini tidak boleh sepenuhnya ditiru, sebab sebaiknya kita tidak melakukan hal
fatal tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Akan tetapi, kita bisa melihat dari
kacamata lain: Naruto bodoh dalam hal strategi, tapi ia dapat mengatasi itu
dengan cara “tidak menyerah meskipun seberapa kuat musuhnya.” Dalam
pertarungannya dengan Pain, Naruto awalnya kalah dan dapat dilumpuhkan dengan
mudah. Saat itu Desa Konoha hancur lebur akibat ulah Pain. Tentu saja, Naruto
tidak tahu bagaimana cara mengalahkan Pain selain dengan tidak menyerah.
Mungkin
kalian berpikir, apa maksudnya tidak
menyerah? Kok abstrak banget.
3. Karena
Itulah Jalan Ninjaku!
Aku tidak akan pernah menarik
kembali kata-kataku, karena itulah jalan ninjaku! Kalimat
ini pasti terdengar tidak asing. To the
point saja, kalimat khas Naruto ini menjadi alasan utama mengapa ia tidak
pernah menyerah untuk menjadi hokage dan selalu optimis untuk menyelamatkan
Sasuke dari dunia kegelapan. Benar, inilah jawaban dari keabstrakan frasa tidak menyerah yang saya gunakan di
sub-judul 2. Ketika desanya hancur, sebagai anak yang bercita-cita menjadi
hokage, Naruto berusaha melindungi dan mengembalikan Konoha bagaimana pun caranya,
sebab di sanalah satu-satunya tempat di mana ia dapat mewujudkan mimpinya.
Dan pada dasarnya kalimat khasnya inilah yang
memotivasi dirinya untuk tidak pernah menyerah di dalam momen-momen yang
lainnya. Kalimat ini membuatnya selalu konsisten untuk melakukan hal-hal yang relate dengan cita-citanya. Jadi,
poinnya adalah “motivasi.” Motivasi sangatlah krusial dalam kehidupan kita.
Kalian pasti pernah merasakan bagaimana pahitnya saat kehilangan motivasi bukan?
Yap! Maka dari itu, supaya tidak mengalami lagi bagaimana pahitnya, kalian
harus mencari motivasi yang bisa kalian jadikan sebagai pedoman hidup untuk
selamanya. Seperti Naruto ini, ia menggunakan motivasinya sebagai pendorong
agar tetap keep up dalam bermimpi.
Dan walhasil, ia pun berhasil mewujudkan mimpinya.
4. Menjadi
Penghapus Peperangan dan Kejahatan Sepanjang Sejarah
Naruto
dikisahkan sebagai anak dalam ramalan katak yang akan menjadi penyelamat dan
pahlawan yang menghapus kebencian di dunia ninja. Kenyataannya memang seperti
itu; setelah sekian jerih payah, hambatan, kegagalan, luka, dan derita yang
dilaluinya, ia benar-benar menjadi pahlawan seperti dalam ramalan katak yang
sudah terbengkalai berabad-abad lamanya. Desa besar shinobi serta klan-klan yang
dulu selalu berperang, setelah kehadiran Naruto—khususnya dalam perang dunia
shinobi ke-4—terbentuk menjadi satu aliansi yang damai dan suportif.
Tapi
sebenarnya jika kita mengacu pada ramalan itu, Naruto tidak seharusnya melalui
jalan sesulit itu hanya untuk menjadi pahlawan. Saya sendiri tidak setuju bahwa
Naruto diceritakan sebagai anak dalam ramalan, karena kalau sudah diramalkan
maka ya, semua seharusnya berjalan mulus-mulus saja to. Jadi, saya melihatnya dari kacamata lain—dari balik rabun.
Naruto bukan anak dalam ramalan, akan tetapi anak pada umumnya yang mau
berjuang lebih keras daripada yang lain. Perjuangan keras itulah yang
mengantarkannya menjadi pahlawan. Bukan anak dalam ramalan yang akan menjadi
pahlawan.
Kisah
Naruto memang berkisar tentang mimpi—mimpi yang tidak hanya untuk dirinya
seorang melainkan untuk orang lain pula. Seperti menyelamatkan Sasuke,
melindungi desa, menghapus peperangan, dan mempersatukan seluruh dunia; semua
bukan karena keegoisan Naruto sendiri. Yang dapat saya ambil dari sini: jangan
hanya bermimpi untuk diri kita sendiri, tapi bermimpilah untuk orang lain jua—berdedikasi
kepada orang banyak. Karena ketika kita bermimpi sendirian, maka yang akan menjadi
pendukung kita juga hanya diri kita sendiri. Namun jika kita bermimpi untuk
orang banyak, maka kita akan mendapat dukungan dari banyak orang.
Nah, itu dia sepintas lalu tentang Si Pirang yang Legendaris. Mungkin penyajian
saya sedikit rumit dan tidak komprehensif, namun kira-kira itulah poin-poin
yang bernilai tinggi dari kisah Naruto. Anime Naruto Shippuden sudah tamat saat
saya kelas 7 dan dilanjutkan oleh kisah Boruto: Naruto Next Generation dengan
cerita yang agak saintifik. Menurut pandangan saya, alur cerita Boruto ini
lebih mengasah otak dibanding Naruto. Dan kalau boleh jujur, cerita Naruto terkesan
jauh lebih menarik, hehe. Sebenarnya banyak yang berpendapat demikian, karena
Naruto memanglah anime paling populer di dunia—di samping One Piece. Meskipun
tidak tahu bagaimana ceritanya, minimal kalian pasti tahu atau pernah dengar Naruto
itu siapa, bukan?
Naruto
tidak pernah kehilangan fan-nya—bahkan banyak pula penggemar yang membuat fan fiksi,
role player, game, parodi, dan sebagainya. Ada pula novelis yang menuliskan
cerita Naruto dari sisi lain, yaitu Jun Esaka, dalam serial novel Naruto
Retsuden. Sampul novel karya Jun Esaka ini digambar langsung oleh Masashi
Kishimoto dan dirilis mulai tanggal 4 Oktober 2019 lalu.

Comments
Post a Comment