Sumpah Pemuda Kini Hanya Mitos?
Hari ini 28 Oktober,
bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda—salah satu hari libur nasional yang sangat
bersejarah bagi kemerdekaan bangsa Indonesia. Karena sekarang masih masa
pandemi, tidak ada acara luar rumah yang dilakukan oleh siswa/siswi. Yang ada
hanya pasang status gambar tangan memegang bendera dengan tulisan: selamat Hari
Sumpah Pemuda, semangat pemuda, atau kami dari xxx mengucapkan selamat Hari
Sumpah Pemuda. Hal tersebut bagus dan oke-oke saja. Tapi sayangnya ada satu hal
yang membuat hal tersebut menjadi buruk; hal tersebut muncul dari ingatan saya
beberapa waktu sebelumnya. Cerita tentang kebrutalan pemuda yang tak sesuai
dengan status yang mereka pajang di sosial media.
Pagi hari sekitar pukul
6, saya bersiap pergi ke sekolah. Saya berangkat bersama bibi yang juga akan
berangkat bekerja di sebuah pabrik rokok. Alhamdulillah saat itu cuaca cerah
dan jalanan belum terlalu ramai. Sampai separuh perjalanan, saya melihat teman
satu sekolah (sebut saja Dian) yang mengendarai motor sendiri tepat di depan
kami. Dia terlihat sangat berhati-hati dalam menyetir. Namun tiba-tiba, sebuah
motor matic menyelip kami dengan kencang dari belakang. Kecepatan gas yang ia
tancapkan sangat tinggi sampai suara knalpot menderu keras di telinga kami. Ternyata
ia adalah teman satu SMP saya yang terkenal kebrutalannya (sebut saja Citra). Cara
ia mengendarai motor sangat membahayakan; di jalanan yang menikung ia masih
sempat-sempatnya menyalip. Motornya dimiring-miringkan seperti truk yang akan
oleng. Saat akan menyalip Dian—yang sekarang sudah agak jauh di depan motor
kami, ia menoleh dan tiba-tiba tersenyum.
Oh, nampaknya Citra mengenal Dian. Mereka pun terlihat berbincang satu
sama lain. Ya, berbincang saat motor masih berjalan dan pengendara lain sudah
mulai memenuhi jalan. Bibi saya pun geleng-geleng melihat tingkahnya yang bisa
saja mengganggu pengguna jalan lainnya. Sesampainya di lampu merah, kami
berhenti—begitu pula Dian dan Citra. Mereka masih mengobrol sampai lampu merah
berganti menjadi hijau. Citra langsung tancap gas dan melaju sangat kencang
sampai suara motor dan punggungnya tidak terlihat lagi.
Kejadian berbeda namun
masih tentang kebrutalan anak muda terjadi di sekolah kenalan saya (sebut saja
Windi). Dalam obrolan panjang di WhatsApp pada suatu malam, ia bercerita
tentang skandal besar sekolahnya yang baru terjadi satu hari sebelumnya. Satu geng
anak-anak—yang juga terkenal nakal dan brutal—di sekolah Windi terpergok
melakukan pesta minuman keras di warung dekat sekolah. Entah apa yang
dipikirkan sekumpulan remaja biadab itu, tiga botol miras yang konon isinya lebih
dari 3 liter itu dilahap bersama-sama saat membolos jam pelajaran. Awalnya mereka
tidak ketahuan; ibu kantin yang berjaga di warung itu nampaknya tak berani
mengingatkan. Sampai akhirnya ketika mereka akan kembali ke kelas, salah satu
dari sekawanan mereka muntah-muntah di halaman sekolah. Sontak langsung beberapa
warga sekolah yang ada di sana kebingungan melihat tingkah anak yang mulai
menggila karena efek minuman keras itu. Singkat cerita mereka ketahuan dan
seluruh siswa langsung memenuhi halaman sekolah. Orang tua setiap siswa
tersebut langsung dipanggil oleh kepala sekolah dan diberi penyuluhan atas
tindakan anak-anak mereka. Beberapa orang tua langsung marah-marah pada
anaknya, bahkan ada yang menangis.
Lain halnya di sekolah
yang lain. Mulai saat pandemi kemarin, aplikasi bernama TikTok mulai populer di
kalangan anak muda khususnya perempuan. Hampir semua lini masa setiap harinya
dipenuhi dengan video-video TikTok yang dibuat oleh kaum hawa. Ada yang
sifatnya menghibur, memberi pengetahuan singkat, rekaman kejadian amatir,
hingga yang tak layak dikonsumsi publik pun memenuhi beranda medsos saya di
mana pun berada. Sampai di suatu masa, teman saya yang bersekolah di suatu sekolah
Islam bercerita tentang kejadian teman seangkatannya yang di keluarkan dari
sekolah karena membuat video TikTok tanpa mengindahkan norma kesopanan. Video tersebut
tidak diperlihatkan pada saya karena pihak sekolah sudah melarang lagi
publikasi dan meminta semua pihak untuk ikut aware dengan kejadian ini. Tak tahu persisnya seperti apa, yang
jelas video itu dibuat dengan pakaian yang minim bahkan bisa dibilang mendekati
naked. Kejadian ini menjadi pukulan
telak bagi pihak sekolah, pun bagi keluarga dan siswi itu sendiri. Pada
dasarnya membuat video TikTok tidaklah mengapa, asalkan kita tahu batasan video
kita layak dipublikasikan atau tidak.
Melihat tiga paparan
kejadian di atas, nampaknya sedikit membuat Anda membenarkan opini saya di paragraf
pertama: perilaku pemuda yang tak sesuai dengan statusnya di sosial media. Mungkin
muncul pula dibenak Anda: apa yang menyebabkan generasi muda bersikap
sedemikian parahnya?
Jika kita melihat dari
sisi lain, misalnya dari kualitas pendidikan—baik pendidikan akademik maupun
kaakter, negeri ini memang bukan yang paling bagus kualitas pendidikannya,
namun bukan pula yang paling buruk. Meskipun Indonesia sering kalah dalam
beberapa kompetisi internasional (dalam skala luas), tapi setiap instansi
pendidikan di negeri ini selalu memberikan pengetahuan sebanyak-banyaknya dan
sebaik-baiknya kepada peserta didiknya. Semua pihak sudah berbondong-bondong
untuk memajukan kualitas pendidikan—mulai dari pemerintah, guru, dan aktivis—agar
lulusan Indonesia mampu bersaing dalam ranah pergaulan internasional. Kualitas pendidikan
kita tak sebegitu buruk, setidaknya terlalu gengsi untuk dikatakan sebagai
penyebab kebrutalan anak-anak muda.
Begitu pula dengan
ekonomi negara. Saat ini Indonesia tengah mengalami kemacetan ekonomi dan
diprediksi mengalami resesi. Semua sektor mulai dari rumah tangga konsumen
hingga produsen dan pemerintah tengah lesu-lesunya menjalani kegiatan ekonomi
yang tak kunjung memberikan perubahan. Meskipun begitu, apakah cukup jika
kemiskinan masyarakat dikatakan sebagai penyebab munculnya generasi muda yang
mudah memberontak? Saya pikir tidak. Ekonomi saat ini tidak seberapa parahnya
dengan Indonesia di masa orde baru. Masa yang dikenal dengan krismon
besar-besaran itu melahirkan bencana non-alam tragis di mana-mana. Namun anehnya,
pemuda waktu itu justru aktif menanggapi kondisi negara yang memprihatinkan. Mereka
berbondong-bondong dan bahu-membahu memperjuangkan hak-haknya sebagai rakyat. Namun
kini—di mana ekonomi sudah lebih baik dibanding kala itu, pemuda malah semakin
tidak peduli dan bersikap pasif terhadap apa yang terjadi di sekitarnya.
Lalu, apakah mungkin
semua ini disebabkan oleh masuknya budaya asing? TikTok, drama korea, tren
rebahan, bahasa slang yang kasar,
hingga budaya konsumtif, semuanya datang dari budaya asing. Mungkinkah? Saya pikir
mungkin. Datangnya budaya asing ini erat kaitannya dengan globalisasi, di mana
semua batas-batas teritorial antarnegara menjadi kabur dan tak terasa lagi. Globalisasi
ini membuat budaya yang masuk tidak mudah disaring, bahkan bisa dibilang tidak
bisa sama sekali. Seperti YouTube dan aplikasi penyedia video lainnya, tidak
ada batasan untuk siapapun dapat mengakses konten yang datangnya dari luar negeri
kecuali kebjakan negara melarang adanya konten yang bisa diakses warganya. Ketiadaan filtrasi terhadap budaya luar ini
membuat sedikit demi sedikit budaya Indonesia terkikis. Anak muda berpikir
bahwa budaya asing lebih menarik dan trendy
daripada budaya Indonesia yang kuno dan itu-itu saja. Padahal, budaya
Indonesia jauh lebih baik dan lebih sesuai dengan fitrah kita sebagai manusia.
Jadi kesimpulannya,
apakah tragedi menurunnya moral anak muda ini disebabkan oleh pengaruh budaya
luar? Sebentar, budaya luar ataukah kita yang
tidak bisa menyaring budaya luar?
Mari berkaca: kita mudah
terpengaruh, kita mudah terbawa sana-sini, kita pun tidak bisa mengendalikan
diri. Kita ambyar, kita terlalu elastis sampai-sampai jika ditarik ke sana-sini
pun mau-mau saja. Bukan pendidikan yang menyebabkan kita kurang ajar, tapi kita
yang selama ini enggan untuk belajar. Bukan resesi yang menyebakan kita mudah
memberontak, tetapi kita yang selama ini tidak pernah peduli. Bukan budaya
asing yang menyebabkan kita biadab, tapi kita sendiri yang mudah terpengaruh
dan tak mau belajar untuk selektif dalam menerima pengaruh budaya negatif itu.
Jadi mungkinkah penyebabnya
adalah diri kita sendiri? Mungkin saja.
Mungkinkah Sumpah
Pemuda kini hanyalah sebuah mitos? Mungkin saja. Kita meramaikan sumpah pemuda
di sosial media, tapi tidak memaknainya di kehidupan nyata.

Comments
Post a Comment