Pada Kemana, oy?!

                     Gambar: Suara Jakarta

Gemericik air mengalir deras dari sebuah kran. Kran itu berada di sudut kamar mandi yang sempit dan sedikit berke rak di beberapa sudutnya. Seorang gadis menadahkan air di kedua telapak tangannya dan mengusapkan ke muka. Dia berwudu, tampak dari gerakannya yang teratur dan mulutnya yang berkomat-kamit membaca niat.

Malam itu, ia hendak ke masjid menunaikan salat isya' dan dilanjutkan tarawih. Ia mengambil mukena putih berkain bali yang agak kusut karena dipakai lima kali sehari. Ia mengucap kata 'sebentar' kepada neneknya yang telah menunggunya di teras rumah. Rumah mereka berpisah, namun dekat. Setiap hendak pergi salat tarawih, si nenek selalu menunggu cucunya untuk pergi bersama ke masjid.

Sang gadis yang telah selesai bersiap-siap kemudian melangkahkan kaki ke dapur untuk mengajak ayah dan ibunya ke masjid. Namun sayangnya, mereka menolak. Terhitung sejak Ramadan jatuh di tahun kedua pandemi ini, orang tua gadis itu baru satu kali melangkahkan kaki ke masjid untuk salat tarawih. Meskipun mereka salat di rumah berdua, namun bagi si gadis tetap kurang berkesan jika tidak beribadah di masjid. Tapi apalah daya, si gadis akhirnya terpaksa pergi ke masjid berdua dengan neneknya.

Suasana masjid tahun ini sudah berbeda dengan Ramadan di tahun pertama pandemi. Jamaah sudah banyak berdatangan ke masjid karena sudah diperbolehkan. Beberapa dari mereka juga ada yang tetap di masjid selepas tarawih untuk tadarus bersama. Gadis sangat senang, ia merasakan getaran Ramadan tahun ini bisa lebih baik dan berkesan di bandingkan tahun yang lalu. Untuk itu, ia pun tetap istikamah dengan tidak pernah absen salat tarawih dan subuh di masjid, serta bertadarus dengan metode one day one juz.

Namun entah mengapa suasana malam itu agak kurang mengenakkan. Masjid-masjid di lingkungan lain sudah azan dan beberapa sudah pujian. sedangkan, di masjid lingkungan sini belum ada suara azan. Nenek dan gadis segera memepercepat langkah mereka karena mereka berpikir: mungkin mikrofon masjid sedang terkendala sehingga azan tidak terdengar. Karena itulah mereka takut jika ternyata sudha ketinggalan jamaah. Akan tetapi, sesampainya di sana, satu orang pun belum ada yang datang. Masjid masih sepi, pintu pun masih di tutup dan undak-undakan belum terpijak satu sandalpun. Kosong, tidak ada siapa-siapa.

Neneka dan gadis lantas berpikir: apakah muazin, imam, dan bilal sedang ada kepentingan lain?   

Singkat cerita, muazin lain yang tidak bertugas azan di malam itu, datang di masjid dan menyerukan panggilan salat. Tanpa interval sedetikpun bagi para jamaah agar dapat melaksanakan salat qabliyah, azan pun langsung dilanjutkan dengan iqamah; dengan jamaah yang dapat dihitung dengan jari jumlahnya.

Sepanjang salat isya dan tarawih, gadis merasa sedih. Mengapa orang-orang hanya bersemangat di awal namun tiba-tiba berhenti saat sudah akan mencapai garis finish?

Sedih rasanya, sudah acara salam-salaman setelah salat ditiadakan, ingkung dihapuskan, takir dihempaskan, jamaah semakin berkurang lagi! Aneh, kesal namun sedih. Hari-hari yang diharapkan dapat berlangsung indah dengan kebersamaan justru berakhir dengan keheningan. Kebersamaan hancur, budaya luntur, hatipun ajur!

Pada kemana, oy, jamaah?!

-Curhatanku

Comments

Popular posts from this blog

Kisah Jaket Merah

Ilalang: Cepat Sembuh, Kakek!

Ilalang: Liburan ke Puncak