Ilalang: Ini Bakatku (Last)

 


Gambar: 99.co

“Anak-anak, hari ini ada surat masuk di despo kepala sekolah. Isinya adalah mengenai Festival Lomba Seni Tingkat Kabupaten. Ada empat cabang lomba yang ditawarkan, yakni tari, menyanyi, melukis, dan akustik. Kira-kira dari kelas 8A ini ada yang berminat untuk ikut?” Ibu guru mengumumkan perihal lomba seni yang sebentar lagi diikuti oleh sekolah Ilalang.

Nunuk mengangkat tangan dan bertanya, “Bu, apakah sebelum mengikuti perlombaan tersebut akan diseleksi terlebih dahulu?”

“Tentu saja, sebab nanti pasti banyak yang akan ikut, nak,” jawab ibu guru. “Kamu sudah terbiasa menari, Nuk, kamu pasti mau ikut, kan?” Tanya ibu guru.

“Em, baiklah, bu. Saya mendaftar untuk ikut,” jawab Nunuk bersemangat. Semua teman sekelasnya kagum mendengar keberanian Nunuk.

“Baiklah, kalau begitu kamu cari teman sekelompok maksimal 5 orang untuk segera dipersiapkan. Dua minggu ke depan akan diadakan seleksi, jika kelompokmu menjadi penampil terbaik, maka kelompokmu pula yang akan melaju mewakili sekolah,” pesan ibu guru.

“Siap, bu!” Jawab Nunuk.

Nunuk benar-benar tak sabar untuk berlatih menari. Saat istirahat tiba, ia menemui Ilalang, Santi, dan Rini yang berbeda kelas untuk direkrut menjadi kelompoknya. Santi dan Rini langsung mau menerima ajakan Nunuk karena mereka berdua juga mengikuti ekstrakurikuler tari seperti Nunuk. Tapi sayangnya Ilalang nampak ragu, selama ini ia tidak pernah menari dan tidak punya bakat lain selain akademik.

“Kamu selalu saja takut, Lang, padahal kamu cerdas. Seharusnya kamu berani menunjukkan siapa dirimu sebenarnya,” kata Nunuk menyemangati Ilalang.

“Tapi aku memang tidak bisa menari, Nuk. Terus apa yang harus aku tunjukkan?” Ilalang mengelak. “Kalian bertiga saja, deh, aku yang mendoakan, hehe,” lanjutnya.

“Yah, kamu, nggak asik banget, sih!” Gerutu Rini.

“Kita bertiga janji, deh, akan melatih kamu sampai menjadi penari profesional!” Ucap Nunuk.

“Em, begini saja, bagaimana kalau kita menyewa pelatih? Nanti biar orang tuaku yang membayarkan,” tawar Santi. Semuanya melongo.

“Serius kamu, San?” Tanya Nunuk.

“Santi gitu, loh, hahaha!” Timpal Rini yang sudah tau betul bagaimana orang tua Santi selalu menuruti keinginan anaknya.

“Iya, nanti akan aku coba bicara sama ayah. Nanti siang kalian bertiga ke rumahku, ya, biar ayah percaya, hehe,” ucap Santi.

“Oke!” Jawab Rini dan Nunuk semangat. Sementara itu Ilalang masih bingung. Akhirnya ia memutuskan untuk ikut ke rumah Santi, tapi entah nanti jadi ikut lomba tari atau tidak.

Ayah Santi menyetujui. Mereka akan dicarikan pelatih profesional dari sanggar terkenal. Rencananya mereka mulai berlatih besok. Tapi lagi-lagi, Ilalang masih ogah diajak menari. Ia sungguh tak percaya diri, tapi teman-temannya terus mendesak saja.

“Kalau aku ikut, nanti aku cuma jadi perusak. Bisa-bisa nanti kelompok kalian tidak terpilih dan uang sewa pelatih jadi terbuang percuma,” alasan Ilalang di tengah kebingungannya.

“Sebentar, kamu sudah tanya nenek?” Tanya Rini.

“Hem, sudah,” jawabnya. “Nenek malah menyuruhku ikut juga,” lanjutnya sambil menggerutu.

“Nah, kan! Itu tandanya kamu memang sudah ditakdirkan ikut. Nenekmu itu sudah bagaikan ibumu. Ridho ibumu artinya ridho Tuhan juga, kan, Lang,” ucap Santi. Kedua temannya setuju dengan ucapan Santi. Akhirnya Ilalang pun terpaksa mengubah pikiran. Walaupun masih ragu, ia akhirnya mau untuk ikut latihan.

Keesokan harinya mereka berlatih di rumah Santi. Pelatih tersebut benar-benar profesional—tahu bagaimana cara melatih anak-anak seusia mereka. Mereka tidak dipaksa melakukan gerakan yang tidak bisa, pun tidak didesak untuk menari sesuai kemauan pelatih. Mereka dilatih dari dasar sampai benar-benar bisa. Dan ternyata, Ilalang sungguh mengejutkan semuanya. Ia punya bakat menari! Pelatih pun melihat sendiri potensi Ilalang itu. Hanya saja, gerakannya sedikit belum tertata karena selama ini ia tidak pernah mencoba menari.

Dua minggu berlatih, kelompok Ilalang sudah siap mengikuti seleksi. Kini Ilalang yang tadinya ragu untuk menari menjadi percaya diri. Gerakan mereka berempat sudah sangat serasi dan tidak ada perbedaan kontras antara yang berbakat menari maupun tidak. Singkatnya, kelompok mereka terpilih menjadi wakil festival lomba seni dan akan melaju ke tingkat kabupaten dua hari ke depan.

Menjelang hari perlombaan mereka tidak berhenti memperbagus penampilan. Ilalang bangun setiap malam untuk salat tahajud agar dimudahkan nanti ketika di atas panggung. Ketika Hari-H sudah tiba, rasa deg-deg-an Ilalang benar-benar tak terbendung.

Keringat dingin membasahi tubuh Ilalang yang sebentar lagi akan tampil di depan puluhan orang. Ketiga teman beserta pelatihnya yang sudah terbiasa tampil menyemngati Ilalang. Mereka menasihatinya agar ia tidak perlu takut untuk tampil di depan umum.

“Ayo, adik-adik, kalian pasti bisa!” Ucap pelatih kepada kelompok Ilalang.

“Siap, kak! Kami janji akan pulang membawa piala!” Ucap Nunuk bersemangat.

Mental Ilalang bertambah ciut ketika nomor urut kelompok mereka dipanggil. Namun berkat membaca surah Al-Fatihah, ia tak lagi takut.

Ilalang dan ketiga temannya tampil memukau di depan dewan juri. Baju-baju merah yang mereka kenakan begitu cocok dengan properti tari yang mereka pakai. Semuanya terpesona. Tari yang mereka tampilkan adalah tari tradisional dicampur tari modern, sehingga tidak terkesan monoton. Mereka tampil kurang lebih selama lima menit dan diakhiri dengan tepuk tangan meriah dari semua audience. Berkat penampilan mereka yang memukau, kelompok Ilalang pulang membawa piala.

Sungguh, tidak ada satu pun yang menyangka kelompok Ilalang akan menjadi juara 2 Festival Seni Sekabupaten ini. Padahal ini untuk pertama kalinya mereka mengikuti lomba seprestisius ini, tapi sudah langsung mendapat juara saja. Semua guru, orang tua, dan teman Ilalang sangat bangga atas pencapaian kelompoknya tersebut.

Sesampainya di rumah, Ilalang langsung menyambar ke pelukan nenek.

“Nek, aku juara 2!” Teriaknya sambil tertawa girang.

“Oh, ya?!” Nenek pun tidak percaya.

“Benar, nek! Ini uangnya, kali ini uangnya untuk nenek,” ucap Ilalang sambil menyerahkan amplop berisi uang ratusan ribu rupiah.

“Wah, alhamdulillah. Nenek benar-benar senang dan bangga denganmu, Lang. Lanjutkan prestasimu, ya. Jangan lupa bersyukur, ucapkan terimakasih kepada orang tua Santi, dan jangan lupa untuk mendoakan kedua orang tuamu juga. Sebab meskipun mereka sudah tiada, kasih sayang mereka masih sangat melekat di dalam ragamu sekarang, nak,” nasihat nenek sambil menangis haru di depan Ilalang.

Ilalang janji akan melaksanakan semua perintah nenek. Ia benar-benar bersyukur atas semua kejadian membahagiakan yang terjadi hari ini. Kondisi keluarganya pun sudah cukup membaik. Walaupun kakek masih bekerja sebagai petani, namun nenek sudah tak perlu berdagang keliling lagi. Nenek sudah memiliki warung makan sendiri di depan rumah. Hal ini karena kerja kerasnya bersama kakek dan Ilalang yang tak pernah sekalipun mengeluh. Mereka tetap istiqamah, apa pun yang diberikan Tuhan kepadanya, ia mensyukurinya. Dan karena ucapan syukur yang tak pernah berhenti itulah, rezeki mereka kian bertambah setiap hari.

Comments

Popular posts from this blog

Kisah Jaket Merah

Ilalang: Cepat Sembuh, Kakek!

Ilalang: Liburan ke Puncak