Flower Talk
Aku tertarik dengan sebuah talkshow yang menghadirkan perempuan seusiaku. Di malam itu, pria supel berlagak sebagai pembawa acara dan perempuan berhijab hitam sebagai narasumber. Terlihat sedikit sendu wajah perempuan itu. Mungkin dia lelah dengan dunia yang dihadapi pada siang hari sebelumnya.
Aku mengernyitkan dahi ketika talkshow yang bertema kesehatan mental ini, berubah suasananya ketika sesi perempuan ini memasuki intinya. Yoga, sang pembawa acara bertanya kepadanya. "Annisa, benda apa yang menurut orang lain sepele, namun bagimu selalu tak ternilai?"
"Bunga." Jeda kurang dari 3 detik wanita itu menjawab.
"Why?"
"I don't even know the main reason, but.." ia berhenti sekejap sambil melihat ke bawah dan tampak berpikir. "..selama ini kalau dikasih bunga, aku tidak pernah menolak. Tapi aku belum pernah dikasih bunga," tukasnya.
Tentu semua orang yang mendengarnya akan ber-hah? Termasuk Yoga. "Maksudnya bagaimana? Kamu tidak pernah diberi bunga oleh siapapun. Tapi misal diberi bunga, kamu tidak akan menolak. Begitu kah?"
"Benar." Jawab perempuan itu.
"Termasuk oleh kekasihmu?"
"Aku tidak punya kekasih, Yog."
"Oh," Yoga masih terheran dengan ungkapan perempuan yang membingungkan tersebut. Tapi sebagai pembawa acara, dia harus bisa membawa percakapan agar tetap mengalir. "Lalu mengapa kau tidak meminta? Misal meminta buket pada mamamu saat wisudamu kemarin."
Perempuan itu menghela napas sedikit dan kembali melihat wajah Yoga untuk memberikan jawaban. Sendu sekali wajahnya. Hal berat apa yang sebenarnya tengah ia hadapi? Aku yang hanya penonton saja berpikir demikian, apalagi Yoga.
"Jika aku minta, maka esensi bunganya akan hilang. Bunga tidak akan pernah lagi menjadi bunga apabila kita memperolehnya secara paksa. Bunga selalu mekar dengan sendirinya, dan itulah mengapa ia selalu indah. Memaksakan bunga untuk mekar dengan indah adalah sebuah kebodohan. Lebih baik aku membelinya sendiri daripada harus meminta." Jawab si perempuan.
Kembali Yoga tertegun. "Oh," ia menjeda. "Em, memang seberapa berharga bunga bagimu?" Ia tampak memperbarui topik, karena tidak tahu bagaimana melanjutkan arah jawaban Annisa.
Annisa kembali tampak berpikir dengan wajahnya yang tidak tersungging sedikit pun senyum itu. "Sebenarnya bukan tentang bunganya.." Ia mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Yoga. Namun siapa sangka, justru matanya berkaca-kaca.
"Oh, ambilkan tissue!" Seru Yoga kepada crew yang berada di samping panggung.
Apa, dia menangis? Aku sendiri bertanya-tanya. Namun benar, perempuan itu malah meneteskan air matanya. Memang jawaban apa yang akan dia berikan? Pikirku semua tampak baik-baik saja, seharusnya.
Setelah mengusap air matanya dengan tissue, dia melanjutkan jawaban. "Sebenarnya bukan tentang bunganya, tapi tentang kerelaan hati yang berada di balik pemberian bunga itu. Bayangkan, di saat ulang tahun kita, hari spesial kita, atau hari di mana kita memenangkan suatu kompetisi, ada orang yang membawakanmu sekuncup tulip dan berkata: selamat, aku sangat bangga denganmu! sambil mengadahkan kedua tangannya memberikan sekuncup tulip itu. Berarti pada saat itu, ada orang yang masih mengingat hari bahagia kita. Ada orang yang sama bahagianya, ketika kita sedang bahagia. Ada orang yang se-effort itu! Dari miliaran orang di dunia ini, ada orang yang mementingkan hidup orang lain untuk sekejap dibandingkan dirinya sendiri. Tidakkah itu sangat manis?!"
Aku dan penyaksi lainnya, termasuk Yoga, masih terdiam. Namun kami tidak mengelak apa yang ia katakan, itu benar.
Sebelum air matanya kembali deras, Yoga berganti pertanyaan. "Baik, aku setuju denganmu. Tapi apakah kamu sendiri pernah memberi orang lain bunga?"
"Sering." Jawabnya cepat.
"Oh, apa yang kau rasakan?"
"Sama senangnya. Walau selama ini bunga yang aku beri tidak pernah dibalas kembali dengan bunga, aku tetap senang dan puas. Aku selalu menanamkan dalam hatiku sebelum memberi, bahwa ini tidak harus dibalas dengan bunga suatu saat nanti. Aku selalu berpikir bahwa orang yang kuberi akan selalu senang dengan bunga ini, maka akupun merasa senang dan tidak berat hati." Jawabnya.
"Bagi sebagian orang, terutama kaum pria, mungkin bunga tampak selalu sepele. Namun bagi kami perempuan, bunga tidak akan pernah ternilai dengan apapun. Aku tidak peduli berapa harga dan apakah aku menyukai jenis bunga itu. Namun yang aku tahu. aku akan selalu menghargai orang yang sama bahagianya ketika aku bahagia, orang yang sekecil apapun selalu mengapresiasi, dan orang yang memberiku bunga tanpa aku minta," tukas perempuan itu.

Comments
Post a Comment