Ilalang: Gorengan Lima Ratusan

 

Azan subuh berkumandang. Ilalang dan nenek yang sudah bangun sejak pukul tiga pagi segera mengambil air wudu untuk salat subuh berjamaah. Sementara itu, kakek sudah mempersiapkan diri untuk pergi ke masjid seperti biasanya. Nenek mengimami Ilalang dengan khusyuk dilanjutkan zikir pagi.

Setelah berzikir dan berdoa, mereka kembali ke dapur untuk mengurus adonan yang belum selesai digoreng. Keseharian nenek bekerja sebagai penjual gorengan keliling, sedangkan kakek bekerja sebagai petani di lahan juragan kaya di kampung. Untuk mempersiapkan gorengan yang akan dijual, nenek harus bangun mulai jam tiga pagi dibantu Ilalang.

“Nek, bagaimana kalau mulai hari ini Ilalang membantu nenek menjual gorengan di sekolah?” Tawar Ilalang kepada sang nenek. Ia tahu betul bagaimana kondisi ekonomi keluarganya. Hidup bertiga bersama orang paruh baya sementara ia sendiri masih harus sekolah merupakan hal yang tak mudah. Kadangkala, Ilalang berpikir untuk tidak melanjutkan sekolah dan bekerja saja. Tetapi kakek selalu menolak karena tidak akan ada orang yang mau memperkerjakan seorang anak yang tak berpendidikan.

Nenek memandangi wajah Ilalang yang sedang menunggu jawabannya.

“Tidak usah, nak. Di sekolah sudah ada kantin, nanti dagangannya malah tidak laku,” jawab nenek.

“Rezeki itu bukannya sudah diatur, nek? Ilalang menjamin ini pasti laku, kok, nek,” ucap Ilalang meyakinkan neneknya. Akhirnya setelah berpikir singkat, nenek pun mengizinkannya.

Ilalang berangkat sekolah dengan membawa kotak anyaman yang berisi gorengan. Jika diestimasi, gorengan tersebut bernilai Rp20.000. Dari keseluruhan penjualan, biasanya nenek akan mendapat keuntungan separuh sampai sepertiganya.

 Sesampainya di sekolah Ilalang disambut oleh ketiga sahabatnya: Rini, Nunik, dan Santi. Mereka penasaran dengan isi kotak yang dibawanya.

“Lalang, apa yang kamu bawa?” Tanya Nunuk penasaran.

“Gorengan, aku ingin menjualnya di sekolah untuk membantu nenek,” jawab Ilalang.

“Oh, ya? Kamu keren banget, deh, mau membantu nenekmu!” Seru Santi.

“Kita bantu Lalang, yuk, teman-teman!” Ajak Rini kepada kedua temannya untuk membantu Ilalang menjual gorengannya.

“Boleh, mumpung masih pagi, pasti banyak yang belum sarapan,” jawab Santi.

“Kalian yakin?” Tanya Ilalang.

“Yakin, lah! Kita kan bersahabat, Lang,” jawab Nunuk.

Akhirnya Ilalang pun menyetujui dan membagi gorengannya menjadi empat wadah untuk dijualkan teman-temannya. Santi berkeliling di depan sekolah, Nunuk di sebelah barat sekolah, Ilalang di sebelah timur sekolah, dan Rini berkeliling ke kelas-kelas. Alhamdulillah, gorengan yang dijual Rini dan Santi sudah laku semua; mereka tak pernah menyangka akan banyak anak yang mau membeli gorengan Ilalang.

Ilalang masih berkeliling di sebelah timur sekolah. Ia menawarkan ke beberapa adik kelas. Dari total keseluruhan gorengan bagiannya—Rp5.000, terhitung baru laku Rp2.000. Di sebelah timur sekolah memang sepi anak-anak, apalagi kalau masih pagi. Akhirnya ia memutuskan berjalan ke dekat kantin. Beberapa anak yang sedang sarapan di pojok kantin melihat Ilalang.

“Eh, itu Lalang, kan? Kamu bawa apa? Gorengan?” Tanya seorang teman sekelas Ilalang. Namanya Ragil, dia tinggal sekampung dengan Ilalang dan sudah menjadi pelanggan setia gorengan nenek.

“Eh, iya, Gil. Kamu mau beli? Hehe,” tawar Ilalang.

“Wah, mau, dong! Sini!” Seru Ragil. “Aku nggak ngira kamu bakalan berjualan juga di sekolah,” lanjutnya.

Ilalang menghampiri Ragil yang duduk di pojok kantin. Ia membuka kotak gorengannya dan Ragil mengambil dua tahu isi untuk dimakan bersama sotonya. Setelah Ragil menukarnya dengan uang, Ilalang mengucapkan terima kasih dan memasukkan uangnya ke kantong saku.

Namun tiba-tiba, ibu pemilik kantin tersebut marah-marah kepada Ilalang.

“Heh, kamu kok berjualan di sini, sih?! Ini itu kantin kami, jangan menyerobot! Lagi pula berjualan di sekolah itu tidak diperbolehkan karena merebut jatah kami—para pedagang kantin!” Kata ibu itu sinis kepada Ilalang. Semua yang ada di kantin pagi itu melihat ke arah ibu dan Ilalang. Ilalang takut sekaligus sedih akan perkataan beliau. Ia akhirnya meminta maaf dan segera beranjak dari kantin itu menuju tempat perkumpulan sahabatnya. Ia berlari sambil menangis.

Ragil yang juga mendengar perkataan ibu tersebut langsung menghentikan sarapannya dan menyerahkan uang Rp3.000 kepada sang ibu. Ia ikut kesal.

“Loh, nak, kok makanannya tidak dihabiskan?” Tanya ibu itu.

“Maaf, bu, saya tidak mau lagi sarapan di tempat orang yang tidak mau membagi rezeki dengan orang lain,” jawab Ragil. Dua orang teman Ragil yang juga sarapan dengannya di sana pun ikut beranjak pergi.

Ibu tersebut nampaknya disadarkan oleh ucapan Ragil. Beliau tidak memaklumi anak-anak yang sedang mencari rezeki untuk membantu keuangan keluarga. Beliau merasa bersalah. Akhirnya beliau meninggalkan kantinnya dan mencari Ilalang di area depan sekolah.

“Nak, kamu anak yang jualan tadi, kan?” Tanya ibu kantin sambil menepuk pundak Ilalang. Ilalang kaget akan kedatangan ibu itu—ia takut dimarahi lagi.

“Maaf, ya, tadi ibu sudah kasar dan menyakiti hati kamu,” ucap sang ibu. “Mulai sekarang ibu berjanji tidak akan mengulangi kesalahan ibu. Kamu pun boleh berjualan sepuasnya di area sekolah, atau dititipkan di kantin ibu pun tidak masalah,” lanjutnya.

Ilalang tak menyangka ibu tersebut justru meminta maaf dan mendukungnya.

“Oh, iya, bu, tidak apa-apa. Lagipula manusia memang tempatnya khilaf. Terimakasih juga atas tawarannya, bu. Kalau besok saya membawa gorengan yang lebih banyak, insyaallah akan saya titipkan di kantin ibu,” jawab Ilalang.

Mereka akhirnya berdamai. Santi, Rini, dan Nunuk pun ikut senang akan kejadian tersebut. Rasanya mereka sama-sama mendapatkan pelajaran yang berharga di hari itu.


Comments

Popular posts from this blog

Kisah Jaket Merah

Ilalang: Cepat Sembuh, Kakek!

Ilalang: Liburan ke Puncak