Ilalang: Sebelum Aku Dilahirkan



Cerpen ini merupakan segmen pertama dari series Ilalang.

Pagi ini sangat indah dan cuacanya cerah. Seorang pria berbadan tinggi nan ramping  mengenakan dasi sambil bercermin. Ia meraih topi hitam bergambar burung garuda yang tergantung di almarinya. Kemudian ia mengambil telepon untuk menanyakan kondisi orang yang sangat disayanginya.

Namanya Farhan, seorang pilot muda yang bekerja di salah satu maskapai penerbangan ternama di Indonesia. Ia memiliki seorang istri yang sedang mengandung tujuh bulan. Karena sedang bertugas untuk menerbangkan pesawat dari Jakarta menuju Jayapura, ia pun meninggalkan istrinya di rumah bersama keluarganya. Melalui telepon di pagi itu, ia mengabari sang istri bahwa ia akan segera menuju bandara untuk menerbangkan pesawat. Begitu sayang sang istri padanya, sampai-sampai ia menangisi keberangkatan suaminya itu.

Farhan mengunci pintu hotelnya dan segera berangkat ke bandara menggunakan taksi. Setelah melewati beberapa prosedur yang ada di bandara, pesawat jenis DF-999 yang dikendalikannya pun terbang menuju hamparan awan putih.

Sebagai pilot yang sudah profesional, Farhan sudah hafal betul fungsi dari keseluruhan tombol rumit yang ada di sekelilingnya. Ia juga sudah mengenal jalur-jalur yang harus dilaluinya. Tak pernah sekalipun ia gagal menerbangkan pesawat apalagi sampai melukai ribuan nyawa yang dibawanya.

Penerbagan pada hari ini pun berjalan lancar. Tidak ada masalah sedikit pun. Para penumpang menikmati perjalanan dengan santai. Ada yang makan sepanjang perjalanan, tidur, foto-foto, atau mengobrol dengan kenalannya. Farhan sangat menikmati perjalanan pada pagi itu, namun tiba-tiba salah satu peralatan rumit yang ada di dekat Farhan menjadi tak berfungsi. Entah apa nama dan fungsi alat itu, namun sangat jelas bahwa ketidakfungsian alat tersebut membuat keringat dingin mengalir di wajah Farhan. Seorang kopilot di samping Farhan pun ikut panik. Mereka terus mencoba memperbaiki alat tersebut namun hasilnya nihil. Alarm tanda bahaya pun dinyalakan. Pesawat telah positif kehilangan kontak.

Semua penumpang panik, pramugari panik, Farhan dan kopilotnya pun panik. Ia takut bukan main: akankah ini menjadi penerbangan terakhir baginya dan bagi ratusan penumpang yang ada di belakangnya?

Sebuah gunung besar dihantam oleh pesawat Farhan. Karena kecepatan yang masih tinggi dan arah yang tak jelas, pesawat tersebut hancur berkeping-keping karena menghantam bagian sisi gunung yang berbatu. Akhirnya pada hari itu, jam itu, menit itu, dan detik itu, nyawa Farhan tak pernah bisa diselamatkan lagi.

Erin, istri Farhan benar-benar syok tatkala mendapati kabar suaminya. Ia tak pernah menyangka hal ini akan terjadi, pun dengan orang-orang yang mengenal Farhan. Sebelum Farhan berangkat, Erin memang sempat punya firasat buruk, seolah-olah tidak mengizinkan Farhan untuk menerbangkan pesawat di hari itu. Ia sudah tak punya harapan lagi untuk hidup bahagia bersama anak yang sedang dikandungnya. Ia pun juga stres karena terus memikirkan ekonomi keluarga ke depannya tanpa ada Farhan.

Dua bulan menjelang persalinannya diisi dengan tangis akan kematian sang suami yang terus menghantui. Sulit rasanya bagi Erin untuk mengikhlaskannya. Susu dan makanan bergizi yang seharusnya menjadi asupan rutin menjelang persalinannya kini justru menjadi makanan yang membuatnya muntah. Seminggu sebelum melahirkan, Erin divonis kekurangan darah. Hal tersebut tentu akan membahayakan janin dan dirinya sendiri saat melahirkan nanti. Ibu dan mertuanya berkali-kali memaksa Erin untuk makan sebanyak-banyaknya, ditambah suplemen penambah darah. Namun Erin begitu keras kepala, ia bahkan merasa tak punya masa depan lagi untuk hidup bersama anaknya.

Firasat buruk Erin tersebut lagi-lagi benar. Karena darah yang dikeluarkan begitu banyak sementara pasokan nutrisi yang terhenti, Erin meninggal saat melahirkan putrinya. Ia pergi meninggalkan bayi bukti cintanya bersama Farhan. Ia pergi sebelum sempat melihat wajah anaknya sendiri.

--

Nenek menyeduh kopi hitam di dalam cangkir. Ia mengaduknya dan meletakkan tutup gelas di atasnya. Dua gelas kopi dan sepiring singkong rebus dibawa olehnya menuju teras belakang. Kakek dan Ilalang duduk berdua di sana sambil menikmati suasana malam.  

“Loh, kek, Ilalang kenapa menangis?” Tanya nenek mendapati Ilalang menangis tersedu-sedu di samping kakek.

Kakek diam sekejap. Ia menyeruput kopi hitam yang dibawa nenek dan meletakkannya kembali di nampan.

“Dia menangis mendengar cerita kematian ayah dan ibunya,” jawab kakek.

Nenek sedikit kaget. Dalam hatinya: mengapa kakek menceritakan hal tersebut sekarang?

Akhirnya kakek dan nenek pun menenangkan Ilalang. 

“Meskipun kamu masih SD, kakek menceritakannya sekarang supaya rasa penasaranmu tidak terpendam lagi; pun harapan kakek, cerita ini akan menjadi penyemangat bagimu dengan mengetahui bagaimana hebatnya mendiang ayah dan ibumu dulu,” jelas kakek. “Di masa depan, kau harus bisa lebih hebat dari orang tuamu.”  

Comments

Popular posts from this blog

Kisah Jaket Merah

Ilalang: Cepat Sembuh, Kakek!

Ilalang: Liburan ke Puncak